Perjalanan Penuh Inspirasi Astra

Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Semakin tua umur seseorang layaknya makin banyaklah manfaat dan inspirasi yang ia berikan. Begitu pun dengan PT Astra yang menginjak umur 60 tahunnya.

Mengenal ASTRA

PT Astra International Tbk didirikan di Jakarta pada tahun 1957 sebagai sebuah perusahaan perdagangan umum dengan nama Astra International Inc. Pada tahun 1990, telah dilakukan perubahan nama menjadi PT Astra International Tbk, dalam rangka penawaran umum perdana saham Perseroan kepada masyarakat, yang dilanjutkan dengan pencatatan saham Perseroan di Bursa Efek Indonesia dengan menggunakan ticker ASII. Nilai kapitalisasi pasar Astra pada akhir tahun 2016 adalah sebesar Rp335,0 triliun.

Astra telah mengembangkan bisnisnya dengan menerapkan model bisnis yang berbasis sinergi dan terdiversifikasi pada tujuh segmen usaha, terdiri dari: Otomotif, Jasa Keuangan, Alat Berat dan Pertambangan, Agribisnis, Infrastruktur dan Logistik, Teknologi Informasi dan Properti. Dengan bisnis yang beragam, Astra telah menyentuh berbagai aspek kehidupan bangsa melalui produk dan layanan yang dihasilkan. Dalam keseharian hidup, masyarakat Indonesia menggunakan sepeda motor dan mobil, jalan tol, printer, hingga layanan pembiayaan, perbankan dan asuransi milik Astra. Pelaku bisnis bermitra dengan Astra dan memanfaatkan berbagai kendaraan komersial, alat berat, layanan logistik, sistem teknologi informasi dan jasa pertambangan dari Astra. Berbagai produk yang dihasilkan, antara lain minyak kelapa sawit, batu bara dan kendaraan bermotor, terus diekspor sehingga Astra dapat berkontribusi dalam menyumbangkan devisa bagi negara.

Kegiatan operasional bisnis yang tersebar di seluruh Indonesia dikelola melalui lebih dari 200 anak perusahaan, ventura bersama dan entitas asosiasi, dengan didukung oleh lebih dari 200.000 karyawan. Sebagai salah satu grup usaha terbesar nasional saat ini, Astra telah membangun reputasi yang kuat melalui penawaran rangkaian produk dan layanan berkualitas, dengan memperhatikan pelaksanaan tata kelola perusahaan dan tata kelola lingkungan yang baik.

Astra senantiasa beraspirasi untuk menjadi perusahaan kebanggaan bangsa yang berperan serta dalam upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, kegiatan bisnis Astra berupaya menerapkan perpaduan yang berimbang pada aspek komersial bisnis dan sumbangsih non-bisnis melalui program tanggung jawab sosial yang berkelanjutan di bidang pendidikan, lingkungan, pengembangan usaha kecil dan menengah (UKM) serta kesehatan.

Tentang SATU INDONESIA

Astra, sepanjang perjalanannya sejak tahun 1957 senantiasa mendedikasikan karyanya untuk kemajuan bangsa Indonesia, sejalan dengan salah satu butir Catur Dharma 'Menjadi Milik yang bermanfaat bagi Bangsa dan Negara'

Manfaat ini diwujudkan dalam Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia (SATU Indonesia) yang merupakan langkah nyata dari Grup Astra untuk berperan aktif, serta memberikan kontribusi meningkatkan kualitas masyarakat Indonesia melalui karsa, cipta dan karya terpadu untuk memberikan nilai tambah bagi kemajuan bangsa Indonesia. Pada prinsipnya di mana pun instalasi Astra berada, harus memberikan manfaat.

Seiring dengan semangat Sumpah Pemuda, PT Astra International Tbk mempersembahkan Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2017 bagi generasi muda yang tak kenal lelah memberi manfaat bagi masyarakat di seluruh penjuru tanah air. Apresiasi diberikan kepada lima anak bangsa atas setiap perjuangan di bidang: Pendidikan, Lingkungan, Kewirausahaan, Kesehatan, Teknologi dan satu Kelompok yang mewakili lima kategori tersebut.

Penyuluh Penangkapan Ikan Sidat Ramah Lingkungan (PPILAR) dari Bengkulu






Astra mencari Mutiara Penerang Bangsa dari setiap daerah. Sebagai orang Bengkulu saya sangat bangga karena pemuda Bengkulu menerima Apresiasi sebagai Penyuluh Penangkapan Ikan Sidat Ramah Lingkungan (PPILAR). 


Tiga pemuda bergabung dalam Pelopor Penangkapan Ikan Sidat Liar (PPILAR) di Bengkulu. Mereka adalah Randi Anoma Putra, Akri Erfianda, dan Rego Damantara. Sejak 2016, mereka menyosialisasikan penangkapan ikan sidat ramah lingkungan dengan alat tradisional, Bubu, kepada nelayan Desa Rawa Makmur dan Arga Makmur, Bengkulu. Ikan sidat masih hidup ketika ditangkap. Dalam keadaan hidup, ikan sidat dihargai cukup mahal, Rp 45 ribu per kilogram. Kualitasnya pun lebih baik, dan ikan sidat bisa dibesarkan hingga layak konsumsi (200 gram). "Sudah layak diekspor," kata Randi dan Rego.

Sebelum ini, sejak 2006, kebanyakan nelayan di sana menggunakan setrum. Ikan hasil tangkapannya dalam keadaan mati. Harganya pun hanya Rp 20 ribu per kilogram. Selain itu, sebagian ikan sidat yang dibesarkan akan dilepaskan kembali ke muara. "Itu adalah pajak kami kepada alam," ujar mereka, selaku pengelola kolam pembesaran ikan sidat. Kini sudah 20 nelayan yang bergabung di PPILAR, 15 orang di Kota Bengkulu, di Bengkulu Utara sebanyak 2 orang, dan di Bengkulu Selatan sebanyak 3 orang. Rata-rata, seorang nelayan bisa menangkap 15-25 kg ikan sidat per minggu.

Semoga apresiasi ini bisa diikuti oleh pemuda Bengkulu lainnya.

referensi
https://www.astra.co.id/
satu-indonesia.com

Tidak ada komentar